Di malam hari yang sunyi oleh
suara mesin – mesin, tampak terlihat seorang pemuda yang tengah berjalan di
suatu pedesaan dengan langkah yang gontai. Terasa hembusan angin yang perlahan
mulai menggoyang pepohonan di sekitarnya, langit pun mengeluarkan suara gemuruh
petir mulai menambah pekatnya suasana malam yang mencekam. Titik – titik air
mulai berjatuhan hingga membuat hati pemuda itu menjadi keluh kesah. Pemuda itu
pu menambah kecepatan langkah kakinya, ditengah perjalannya ia mendengar suara
yang tengah memanggil – manggil namanya. “HARRY, HARRY kemarilah sebentar hujan
mulai bertambah deras”, sesosok perempuan yang meneriakan namanya dari
kejauhan. Langkah Harry terhenti sejenak sambil memperjelas pengelihatanya
kepada seseorang yang memanggilnya.
Tampaknya
Harry mulai paham sesosok wanita itu, sambil berlari ia menghampirinya. “Harry
kau mau kemana malam – malam begini lagipula di luar itu hujan.” Kata perempuan
itu dengan nada yang khawatir. Rasanya Harry mengenal dekat sosok perempuan
itu, “Shinta? Hey kau apa kabar? Ternyata kamu masih ingat kepadaku.” Tampak
muka Harry yang terkejut, ternyata perempuan itu adalah karibnya yang telah
lama ia kenal yaitu teman seperjalanan hidupnya di masa ia masih duduk di
bangku SMA. “ya seperti inilah kabarku sekarang ini Har! Ya tentu aku tidak
mungkin lupa denganmu, o iya silahkan masuk dulu, tidak baik malam – malam
begini di luar.” Jawab Shinta.
Dengan
rasa malu – malu Harry mulai memasuki rumah Shinta, tampak sigap Shinta pun
mulai merapihkan sedikit bagian dari ruang tamunya, “silahkan duduk Har! Tunggu
sebentar akan ku ambilkan minuman hangat untukmu!”. Sedang Harry menunggu duduk
di ruang tamu matanya mulai melihat – lihat sekeliling ruangan itu yang tampak
serasa asing baginya, nampak sebuah foto – foto terpajang di sisi dinding
ruangan itu, secara tak sengaja ia mulai memandangi sebuah foto pernikahan yang
di dalamnya nampak wajah Shinta, wajah Harry mulai agak sedikit berubah setelah
memandangi foto itu. “ ada apa Harry? Kau tampak seperti orang bingung saja,
kita ini kan sudah lama saling kenal. Ini kubuatkan kopi hangat untukmu!.” “Itu
foto pernikahanmu ya? Lalu kemana suamimu, aku tidak melihatnya dari tadi.”
Tanya hari dengan nada yang bingung, “ceritanya panjang Harry,” tampak seperti
kecewa pada raut muka Shinta.
Sambil
melepas jaketnya yang telah basah oleh air hujan Harry mulai meminum secangkir
kopi yang telah di buatkan oleh Shinta, “mungkin aku bisa sedikit mendengarkan
ceritamu jika kau tak keberatan untuk menceritakan kisahmu padaku.” Kata Harry.
Dengan ragu – ragu Shinta menjawab “ya sebenarnya suami ku itu bernama Bram,
kami menikah sejak 2 tahun yang lalu, selama pernikahan kami ia tak jarang
sekali pulang ke rumah, ia bertugas sebagai seorang pelayaran jadi wajarlah
jika ia itu jarang sekali pulang, tetapi entah mengapa sudah 1 tahun belakangan
ini ia menghilang tidak ada kabar sama sekali.”
“apa
kau tidak mencoba untuk menanyakan kabarnya pada orang tua si Bram suamimu
itu?” kata Harry. “justru itu Har, yang membuatku lebih bingung lagi aku sempat
sesekali untuk berkunjung ke rumah orang tuanya Bram, tetapi yang ada hanya
pamannya. Ku dengar dari pamannya si Bram itu sudah punya kehidupan baru di
Kanada, sekarang Bram telah menikah dengan warga negara Kanada, orang tuanya
pun ikut pindah kesana” air mata Shinta mulai bercucuran. Harry merasa bersalah
telah membuat Shinta menangis “maafkan
aku Shinta aku tidak bermaksud membuatmu seperti ini,” sambil mengusap air matanya Shinta berkata “
sudahlah Harry tak apa, aku justru selama ini ingin ada orang yang mau
mendengarkan ceritaku ini, aku senang bertemu kau kembali Harry.”
Keduanya pun saling bercakap –
cakap, tak terasa waktu menunjukan 12 malam, perjalanan cerita mereka makin mendalam.
“ kamu mau pulang kemana Harry? Tanya Shinta. “rumahku di dusun periangan,
kurang lebih masih 5 km dari sini” jawab Harry”. Shinta mengajak Harry untuk
bermalam di rumahnya karena saat itu hujan belum berhenti turun juga sedangkan
jarak rumah Harry terlampau jauh untuk di tempuh dengan berjalan kaki apalagi
di tengah malam seperti ini. “apa kamu mau untuk bermalam sehari saja di sini
Harry? Aku tidak keberatan jika kamu mau bermalam di sini”. Harry pun mengiyakan
ajakan Shinta karena ia sudah terlalu letih untuk melanjutkan perjalanannya.