Jumat, 08 Februari 2013

perjalanan di malam itu



                   Di malam hari yang sunyi oleh suara mesin – mesin, tampak terlihat seorang pemuda yang tengah berjalan di suatu pedesaan dengan langkah yang gontai. Terasa hembusan angin yang perlahan mulai menggoyang pepohonan di sekitarnya, langit pun mengeluarkan suara gemuruh petir mulai menambah pekatnya suasana malam yang mencekam. Titik – titik air mulai berjatuhan hingga membuat hati pemuda itu menjadi keluh kesah. Pemuda itu pu menambah kecepatan langkah kakinya, ditengah perjalannya ia mendengar suara yang tengah memanggil – manggil namanya. “HARRY, HARRY kemarilah sebentar hujan mulai bertambah deras”, sesosok perempuan yang meneriakan namanya dari kejauhan. Langkah Harry terhenti sejenak sambil memperjelas pengelihatanya kepada seseorang yang memanggilnya.

                 Tampaknya Harry mulai paham sesosok wanita itu, sambil berlari ia menghampirinya. “Harry kau mau kemana malam – malam begini lagipula di luar itu hujan.” Kata perempuan itu dengan nada yang khawatir. Rasanya Harry mengenal dekat sosok perempuan itu, “Shinta? Hey kau apa kabar? Ternyata kamu masih ingat kepadaku.” Tampak muka Harry yang terkejut, ternyata perempuan itu adalah karibnya yang telah lama ia kenal yaitu teman seperjalanan hidupnya di masa ia masih duduk di bangku SMA. “ya seperti inilah kabarku sekarang ini Har! Ya tentu aku tidak mungkin lupa denganmu, o iya silahkan masuk dulu, tidak baik malam – malam begini di luar.” Jawab Shinta.
                
                   Dengan rasa malu – malu Harry mulai memasuki rumah Shinta, tampak sigap Shinta pun mulai merapihkan sedikit bagian dari ruang tamunya, “silahkan duduk Har! Tunggu sebentar akan ku ambilkan minuman hangat untukmu!”. Sedang Harry menunggu duduk di ruang tamu matanya mulai melihat – lihat sekeliling ruangan itu yang tampak serasa asing baginya, nampak sebuah foto – foto terpajang di sisi dinding ruangan itu, secara tak sengaja ia mulai memandangi sebuah foto pernikahan yang di dalamnya nampak wajah Shinta, wajah Harry mulai agak sedikit berubah setelah memandangi foto itu. “ ada apa Harry? Kau tampak seperti orang bingung saja, kita ini kan sudah lama saling kenal. Ini kubuatkan kopi hangat untukmu!.” “Itu foto pernikahanmu ya? Lalu kemana suamimu, aku tidak melihatnya dari tadi.” Tanya hari dengan nada yang bingung, “ceritanya panjang Harry,” tampak seperti kecewa pada raut muka Shinta.
  
               Sambil melepas jaketnya yang telah basah oleh air hujan Harry mulai meminum secangkir kopi yang telah di buatkan oleh Shinta, “mungkin aku bisa sedikit mendengarkan ceritamu jika kau tak keberatan untuk menceritakan kisahmu padaku.” Kata Harry. Dengan ragu – ragu Shinta menjawab “ya sebenarnya suami ku itu bernama Bram, kami menikah sejak 2 tahun yang lalu, selama pernikahan kami ia tak jarang sekali pulang ke rumah, ia bertugas sebagai seorang pelayaran jadi wajarlah jika ia itu jarang sekali pulang, tetapi entah mengapa sudah 1 tahun belakangan ini ia menghilang tidak ada kabar sama sekali.”

                “apa kau tidak mencoba untuk menanyakan kabarnya pada orang tua si Bram suamimu itu?” kata Harry. “justru itu Har, yang membuatku lebih bingung lagi aku sempat sesekali untuk berkunjung ke rumah orang tuanya Bram, tetapi yang ada hanya pamannya. Ku dengar dari pamannya si Bram itu sudah punya kehidupan baru di Kanada, sekarang Bram telah menikah dengan warga negara Kanada, orang tuanya pun ikut pindah kesana” air mata Shinta mulai bercucuran. Harry merasa bersalah telah membuat Shinta menangis  “maafkan aku Shinta aku tidak bermaksud membuatmu seperti ini,”  sambil mengusap air matanya Shinta berkata “ sudahlah Harry tak apa, aku justru selama ini ingin ada orang yang mau mendengarkan ceritaku ini, aku senang bertemu kau kembali Harry.”

                 Keduanya pun saling bercakap – cakap, tak terasa waktu menunjukan 12 malam, perjalanan cerita mereka makin mendalam. “ kamu mau pulang kemana Harry? Tanya Shinta. “rumahku di dusun periangan, kurang lebih masih 5 km dari sini” jawab Harry”. Shinta mengajak Harry untuk bermalam di rumahnya karena saat itu hujan belum berhenti turun juga sedangkan jarak rumah Harry terlampau jauh untuk di tempuh dengan berjalan kaki apalagi di tengah malam seperti ini. “apa kamu mau untuk bermalam sehari saja di sini Harry? Aku tidak keberatan jika kamu mau bermalam di sini”. Harry pun mengiyakan ajakan Shinta karena ia sudah terlalu letih untuk melanjutkan perjalanannya.